Tampilkan postingan dengan label Hasbullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasbullah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 September 2021

Menafsir Perempuan Berkemajuan

Oleh: Hasbullah
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Faunder Tadarus Kehidupan
 

Sejatinya perempuan dalam kehidupan ini untuk saling mendukung, mendorong, menguatkan dan saling memberi kesempatan  dalam mengembangkan potensi. Ketika ada pandangan bahwa perempuan itu diskriminatifkan, maka layak kiranya untuk melihat bagaimana cara mendang teks-teks atau narasi yang dianggap diskirminasi terhadap perempuan. Agama misalnya, tidak mungkin dalam suatu ajaran agama yang di dalamnya ada ajaran tentang keadilan mengajarkan tentang diskriminatif terhadap perempuan. Kalaupun ada, sudah pasti harus melihat bagaimana memandangnya dan mediskripsikannya. Jelasnya bahwa jangan menyederhanakan definisi diskrimitatif, karena akan banyak hal yang berkaitan dengan kata tersebut.

 

Perempuan memiliki peran yang cukup luas. Peciptaanya bukan saja menjadi pelengkap kehidupan melainkan menjadi semakin berwarnanya  dalam menghidupkan semesta. Jenis kelamin itu merupakan suatu usaha untuk saling menguatkan, ketika secara kemampuan intelektual mampu maka perempuan memiliki peran yang sama dengan laki-laki. Sehingga secara nilai, perempuan juga harus masuk dalam dimensi peran kehidupan yang luas, yaitu peran yang memajukan perempuan masuk dalam ramah memajukan kemanusiaan.

 

Seorang perempuan memiliki arti dan peran yang sangat luas menghidupakan keadaan, mencerahkan peradaban, mencerdaskan pemikiran, serta memuliakan keluarganya. Berkemajuan itu artinya peduli dengan segala bentuk kekurangan, keterpurukan keadaan baik dalam bentuk pendidikan, sosial, ekonomi, budaya terutama kaitan dengan hajat hidup orang banyak. Hal inipun sudah semestinya disematkan pada seorang perempuan dengan nilai berkemajuan.

 

Padangan tentang gender yang selama ini bias, akan bisa terjawab dengan memunculkan aksi-aksi nyata dari seorang perempuan. Sudah semestinya semua elemen mendorong perempuan agar mampu berkiprah dimanapun tanpa mengurangi jati diri, meninggalkan kewajiban, serta tidak melupakan kodrat sebagai seorang perempuan. Perempuan berkemajuan akan mengetahui batasan-batasan diri sebagai bentuk nyata relasi dari kehidupan. Tidak ada pembatasan dan tidak perlu dibatas-batasi. Karena sudah semestinya, perempuan berkemajuan memahami dirinya dengan fungsi, tugas dan tujuan keberadaan perempuan. Bagaimanapun tinggi pendidikan, luasnya jaringan, memiliki jabatan dan kedudukan tidak akan akan melupakan kodrat sebagai seorang perempuan.

 

Ragam Tafsir Perempuan Berkemajuan

Perempuan berkemajuan adalah perempuan yang tetap menyelesaikan urusan domosetik rumah tangganya, namun disisi lain perempuan itu berani berperan di luar rumah. Perempuan berkemajuan adalah mereka yang berani keluar pakemnya, memiliki modal pendidikan umum dan agama, bertindak serta berbuat bukan saja untuk kepentingan lokal melainkan untuk kebutuhan universal. Perempuan berkemajuan adalah mereka yang berani mendombrak kebiasaan peran seorang perempuan dalam berkiprah, memberikan sumbangsi nyata dalam kehidupan berbangsa bernegara. Bagi perempuan berkemajuan, pendidikan menjadikan konsetrasi awal sebagai simbol kekuatan dan landasan dalam membangun kuatnya inteletual untuk memperkuat menjalankan peran yang  lebih luas.

 

Perempuan berkemajuan akan senantiasa membangun jaringan yang merupakan satu bentuk usaha memperluas cakupan pemikiran dan tindakan. Kepedulian sosial yang dilakukan adalah cikal bakal untuk menguatkan eksistensi personal, sosial dan intelektual seorang perempuan. Sehingga berkemajuan yang disandingkan kepada perempuan, akan senantiasa melahirkan nilai-nilai kebaikan bersama dan untuk semua manusia.

 

Meluaskan kepemimpinan, merupakan satu jalan mengkiprahkan perempuan berkemajuan. Dari sini semua potensi baik berupa pemikiran, ucapan serta prilaku akan tersaluran  dalam aktifitas kehidupan kemanusiaan guna tercapai hidup adil, beradab, dan bijaksana. Karena perempuan berkemajuan pada dirinya memiliki nilai ketaatan tinggi terhadapa Sang Maha pencipta, karena dia sadar adanya serta keberadaan dirinya tidak akan terlepas dari pengawasanNya. Nilai keagamaan akan terus ada dan mengiringi dalam setiap derap langkah kaki, pemikiran, dan ucapannya.

 

Perempuan berkemajuan, menjadikan keyakinan sebagai dasar dan kekuatan dalam berkiprah. Semua kiprah yang dilaksanaka, bukan saja akan dinilai berupa angka pujian, tepuk tangan, dan ucapan selamat melainkan bentuk dari amal shaleh dari kehidupan. Maka perempuan berkemajuan tidak akan hanyut dan bangga dengan pujian, tidak tumbang dan kalah dengan caci maki dan hinaan. Karena ia sadar bahwa hidup itu adalah rangkain panjang dalam menjalankan  ibadah dan misi kekhalifah. Dua hal ini yang juga menjadi menjadi kekuatan perpempuan dalam menjalankan setiap gerakan.

 

Tentunya  perempuan berkemajuan itu tidak akan meninggalkan bahkan mengutamakan nilai-nilai akhlak. Akhlak menjadi perempuan itu menjadi terhormat bukan saja dihadap perempuan itu sendiri bahkan di hadapan laki-laki dan dihadapan Tuhan. Akhlak menjadi pegangan bahkan pelindung  bagi seorang perempuan dalam terus berada dalam harmoni kehidupan. Maka akhlak tidak bisa dipisahkan dari figur seorang perempuan berkemajuan. Dengan akhlak akan dengan sendirinya seorang perempuan ditempatkan, bukan saja disejajarkan dengan laki-laki melainkan dia akan di utamakan dalam setiap interaksi baik itu interaksi keagamaan maupun sosial. Penting kirinya setiap perampuan itu menampilkan dan mengutamakan akhlak baik dalam setiap ruang, waktu dan keadaan dalam kehidupan.

 

Dalam hal relasi tentunya perempuan berkemajuan akan masuk ruang-ruang public, ruang dimana akan diuji atas komitmen dan integritas diri terhadap aktualisasi dirinya. Sehingganya kesadaran akan kekurangan diri, kesadaran pengakuan kelebihan laki-laki, kesadaran adanya kewajiban akan difahami sebagai fitrah perempuan. Di sisi lain ruang publik akan memperkuat dalam melaksanakan kewajiban serta memperjuangkan hak sebagai serorang perempuan. Ruang public akan membantu seorang perempuan dalam menjalankan titah dan amanah kehidupan. Dan semestinya semua harus menyadari bahwa kodrat seorang perempuan tentunya bukan menjadi penghalang dalam berkarir dan berkarya, namun kodrat menjadikan kekuatan dan pengingat bahwa dirinya adalah seorang perempuan yang memiliki keluasan dan juga keterbatasan.*

IMM Lahir Di Negeri Lumba-Lumba

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi otonom Muhammadiyah (Ortom), yang bertangung jawab dalam perkembangan intelektual dan pergerakan kader Muhammadiyah. Kiranya tanggung jawab ini tidak menjadi kesulitan karena IMM memiliki lingkungan keilmuan dan gerakan. Sudah pasti IMM harus mampu menjadi solusi atas kegusaran, kegelisahan yang terjadi dalam dunia kemanusia. Baik itu berupa kemiskinan, kebodohan dan penidasan baik itu ekonomi, sosial, budaya, politik bahkan agama. Sehingga IMM harus mampu berdiaspora dengan keadaan dan situasi bangsa ini.

Haedar Nasir, dalam Tanwir IMM mengatakan “Tingkatkah kaderisasi secara sistematis, secara intensif agar perkaderan, selain bisa berjalan dengan baik, juga bisa menghasilkan kader ikatan yang sesuai harapan peryarikatan, umat, dan bangsa. Sehingga ke depan, kader IMM bukan hanya dapat berdiaspora di dalam struktur internal maupun eksternal, tetapi juga memainkan peran strategis, bahkan menjadi uswah hasanah”. Pesan ini jelas, dan juga ungkapan optimisme bahwa IMM dapat membesar gerak persyarikatan dalam berbagai dimensi.

IMM Lahir Di Negeri Lumba-Lumba

IMM Lahir Di Negeri Lumba-Lumba

WARTAMU.ID – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi otonom Muhammadiyah (Ortom), yang bertangung jawab dalam perkembangan intelektual dan pergerakan kader Muhammadiyah. Kiranya tanggung jawab ini tidak menjadi kesulitan karena IMM memiliki lingkungan keilmuan dan gerakan. Sudah pasti IMM harus mampu menjadi solusi atas kegusaran, kegelisahan yang terjadi dalam dunia kemanusia. Baik itu berupa kemiskinan, kebodohan dan penidasan baik itu ekonomi, sosial, budaya, politik bahkan agama. Sehingga IMM harus mampu berdiaspora dengan keadaan dan situasi bangsa ini.

Haedar Nasir, dalam Tanwir IMM mengatakan “Tingkatkah kaderisasi secara sistematis, secara intensif agar perkaderan, selain bisa berjalan dengan baik, juga bisa menghasilkan kader ikatan yang sesuai harapan peryarikatan, umat, dan bangsa. Sehingga ke depan, kader IMM bukan hanya dapat berdiaspora di dalam struktur internal maupun eksternal, tetapi juga memainkan peran strategis, bahkan menjadi uswah hasanah”. Pesan ini jelas, dan juga ungkapan optimisme bahwa IMM dapat membesar gerak persyarikatan dalam berbagai dimensi.

Tanggal, 28 September 2021 Pimpinan Cabang (PC) IMM Taggamus resmi di lantik. Kelahiran PC IMM Tanggamus, ini adalah bukti keserius IMM Lampung dalam melakukan perkaderan serta menggerakan persyarikatan sebagai gerakan Dakwah dan Tajdid. Bersama belum adanya kampus Muhammadiyah, namun ada IMM ini adalah bentuk kemajuan dan keberanian gerakan. Namun tentunya keberadaan IMM Tanggamus, harus tetap di dampingi, dibina dan di arahakan oleh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai orang tua dalam berorganisasi.

Sudah dapat di pastikan, banyakan harapan besar dari kelahiran PC IMM Tanggamus. Setidak kader IMM Tanggamus akan mengisi ruang-ruang dakwa dan gerakan, yang selama ini belum terakomodir oleh Muhammadiyah dan ortom lainnya. Maka kader IMM tidak boleh cengeng, lembek, jangan menjadi pengemis intelektual dan pelacur gerakan. Sikap dan identitas sebagai kaum akademisi harus dikedepankan. Akrab dengan siapapun, namun tetap berani dalam kata dan pemikiran jika ada kezaliman baik struktural maupunkultural.

Dilain keadaan, PC MM Tanggamus kedepan akan banyak tantangan dalam menjalankan gerakan dan karya nyata. Masih minimnya pengalaman, belum adanya peta gerakan, kuantitas kader terbatas dan tentunya juga lemah jaringan secara organisasi. Dengan potensi kabupaten Tanggamus yang cukup banyak, dan ini sini juga kader IMM harus mampu hadir untuk memberi prestasi dari potansi tersebut. Maka secara gerakan IMM bukan hanya untuk Muhammadiyah, melainkan untuk umat dan masyarakat luas. Oleh karenanya, PC IMM Tanggamus harus segera melakukan langkah dan gerak yang masif. Setidaknya ada 4 hal yang harus segera di jalankan oleh PC IMM Tanggamus dalam waktu dekat ini.

Pertama, penguatan organisasi. Tentunya, hal menjadi catatan awal PC IMM Tanggamus. Kematangan dalam memahami gerakan ikatan menjadi pintu awal agar tidak salah jalan dan salah kaprah dalam berIMM. Di sisi lain, agar semua yang dilaksanakan oleh kader IMM baik dalam bentuk pemikiran dan gerakan, tidak lepas dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Karena ikatan ini adalah gerakan, maka semua harus bergerak tersistem dan terukur. Dan menyegerakan pembetukan komisariat di kampus yang ada.

Kedua, masif melakukan Perkaderan. Sebagai organisasi kader, maka hal ini juga harus segera dilakukan PC IMM Tanggamus. Dengan bermodalkan kader IMM yang telah menjadi alumni (senior) perkaderan akan dengan mudah terlaksana. Dari perkaderan ini akan lahir kader yang memiliki basis keagamaan, intelektual dan pergerakan untuk kemajuan IMM dan Persyarikatan. Maka jangan banyak berdebat untuk perkaderan, namun perbanyaklah peserta. Karena perkaderan yang sesungguhnya bukan melalui Darul Arqom Dasar, Madiyah dan Purna. Perkaderan IMM sesungguhnya ada berani dan mampu mejaga Indetitas dan Marwa Ikatan dalam kondisi dan keadaan apapun.

Ketiga, membuat mimbar Intelektual. Memperkuat, memperkokoh, dan memobilisasi pontensi intelektual ini sangat penting. Karena ruh dari IMM itu adalah kecakapan berfikir dan menggerakan pemikiran. Forum literasi, diskusi dan adanya aksi keilmuan ini juga hal semestinya segera PC IMM Tanggamus lakukan. Dari mimbar intelektual ini akan mengasah pisau analisis dan cepatnya aksi, yang berdasarkan keilmuan sebenarnya. Dengan mimbar intelektual ini lah pemahaman agama, ekonomi, sosial, ekonomi, politik dan terutama persyarikatan dan ikatan akan tebangun dengan baik dan benar sehingga pondasi bergerak dalam ikatan akan lebih kuat. Dari mimbar intelektual ini, kepentingan sesaat dan kepentingan politik praktis akan bisa diluruskan dalam forum keilmuan dan keadaban. Maka perdebatan berkemajuan akan lahir dan hadir di mimbar intelektual ini.

Keempat, membangun jaringan. Sebagai struktur organisasi yang baru lahir tentunya perlu memperbanyak kawan, meluaskan pandangan agar oraganisasi ini tidak jadi baperan dan lemah dalam penguasaan peta gerakan. Silahturahmi kepada semua elemen masyarakat yang setara harus segera di jadwalkan. Terutama jaringan internal Muhammadiyah, agar terbangun sinerge dalam berdakwah amar makruf nahi munkar. Selain itu dari jaringan inilah akan membantu ikatan dalam pelaksanakan penguatan organisasi, perkaderan dan banyaknya referensi dalam pengembangan intelektual dan gerak ikatan.

Akhirnya, diucapkan selamat bergerak bersama ikatan yang sebenarnya besar dalam jaringan dan kuat dalam perkadaran. “Menolak Tunduk dan Bangkit Melawan Penindasan Karena Diam adalah Penghiantan”. *

Oleh : Hasbullah
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Founder Tadarus Kehidupan

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id.

Senin, 13 September 2021

Memimpin Itu Melayani


Memimpin Itu Melayani

0
SHARES

Oleh: Hasbullah (Dosen UMPRI/Founder Tadarus Kehidupan)

Tema ini sudah banyak ditulis, bahkan dikaji dalam kelompok-kelompok kajian. Hal ini dilakukan bukan dalam rangka melemahkan para pemimpin, namun ini merupakan cara untuk mengingatkan serta memberikan masukan kepada para pemimpin. Agar menempatkan posisi diri, sehingga layak disebut pemimpin dan prilakunya layak diteladani.

Pemimpin itu artinya memimpin. Setidaknya di awali dari memimpin dirinya, keluarganya dan juga masyarakat. Memimpin itu adalah fitrah yang telah ditetapkan pada setiap manusia sejak ada dikandungan. Dengan bekal kesucian manusia, maka mereka akan mampu mempengaruhi kehidupan di dunia.

Pemimpin itu melayani, bukan untuk dilayani. Dia akan tenang di tengah gelombong besarnya masalah. Tetap menyejukkan ditengah panasnya keadaan. Tetap rendah dalam ketinggian, tetap santai dalam setiap suasana dan keadaan. Sehingga pemimpin seharusnya sadar bahwa dirinya akan mempertanggungjawabkan dengan segala yang hari ini di sematkan sebagai amanah.  

Memimpin itu adalah menggambarkan karakter, hal ini akan sangat mempengaruhi cara berinteraksi serta cepat beradaptasi. Seorang pemimpin, ia memiliki serta memberikan konsistensi dengan pemikiran, perkataan serta kebijakannya. Kolaborasi menjadi satu sisi penting dari seorang pemimpin. Tugas pemimpin bukan hanya memerintah, namun ia memberikan kesadaran tanggung jawab serta kenyaman.

Belajaralah Pada Umar Bin Khattab

Saudara sekalian, bantulah saya dalam menjalankan tugas amar makruf nahi munkar. Bekali saya dengan nasihat-nasihat saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya demi kepentingan saudara-saudara sekalaian. Itulah salah satu penggalan pidato Umar Bin Khattab ketika diangkat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar Asshidiq.

Pidato yang terlihat sederhana, namun syarat dengan makna. Pidato yang menyadarkan dirinya jauh dari sempurna, namun akan tetap memberikan yang sempurna kepada siapapun dalam kepemimpinannya. Memimpin itu kata Umar, ada menegakkan kebaikan dan juga mencegah kemungkaran. Dan yang terpenting Umar menyampaikan, menjadi pemimpin itu adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Umar Bin Khattab, yang merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW memberikan teladan bagaimana memposisikan  diri sebagai seorang pemimpin untuk melayani. Keluar dari rumah, menyambangi satu persatu rakyatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi serta apa yang diinginkan dengan tidak membawa rombongan, serta tidak terjadwal.

Umar Bin Khatab, mencari sendiri ketidakmampuan rakyatnya. Dihantar sendiri dengan pundaknya sendiri, tanpa ada rekaman dan pencitraan. Bahkan Umar tidak gentar dengan caci maki rakyatnya. Tidak membawa pada perasaan atas kritik dan selaga reaksi rakyat. Apalagi dibawa kemeja hijau untuk dicari kesalahan lalu dipenjara.

Umar tegas, ia hadapi dengan sikap bijak menanggapi semua yang disampaikan rakyatnya dan segera mengambil sikap. Beginilah pemimpin yang melayani, mengetahui, mengalami dan menjadi solusi atas persoalan yang dirasakan oleh rakyatnya.

Dari sini, bagaimana Umar mengkabarkan seorang pemimpin yang melayani itu adalah mereka yang banyak mendengar. Pendengarannya sampai tidak memberikan lidah untuk berucap, namun memberikan kebijakan nurani serta menggerakan kekuasannya untuk memberika aksi nyata. Sebab baginya, pemimpin itu menjadikan rakyat keluar dari fitnah kepemimpinannya.

Realita Pemimpin Hari Ini

Menurut pendekatan traits, seseorang diangkat dan ditetapkan menjadi seorang pemimpin itu karena memiliki hal-hal atau sifat yang mendukung kepemimpinannya. Sifat tersebut adalah jujur (sidiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fatonah) dan menyampaikan kebaikan (tabliq).

Sifat ini menjadi hal yang pokok dan baku dimiliki seorang pemimpin. Namun secara realita, pemimpin negeri ini bahkan diri kita sering menampilkan dan mempertontonkan hal-hal yang terbalik dari sifat tersebut. Pemimpin hari dengan mudah memperlihatan pengkhiantan atas amanah yang diberikan. Korupsi, kolusi dan nepotisme langsung dijalankan untuk menetapkan kekuasaan.

Perilaku yang memperlihatkan kebodohan. Misalnya dengan kehadirannya tidak sesuai dengan jadwal, rakyat dibiarkan menunggu berlama-lama. Hingga waktu yang ditentukan di biarkan begitu saja, sudah berapa banyak pemikiran terbuang sia-sia dan juga kedzoliman terhimpun dari pikiran serta perkataan karena ulah janji seorang pemimpin.

Belum lagi dengan pembagian sembako harus berdesakan, ada yang tersungkur, terinjak dan anehnya seorang pemimpin masih bisa tersenyum sambil membagikan kebutuhan rakyatnya. Disini mempeihatan kecerdasan komunikasi dalam memperlakukan rakyat jauh dari keilmuan. Begitukah disebut pemimpin yang melayani, inikah pemimpin yang dipilih oleh rakyatnya, ditetapkan dalam ageda demokrasi (pilkada, pileg dan pemilu)?

Pemimpim hari ini, bagaikan raja tanpa singgasana. Ada kerajaan, namun rajanya tak berkuasa sepenuhnya. Bagaikan lautan tanpa karang, deras suaranya, namun tak pernah menghacurkan apapun juga. Ditakuti dan hanya mendapat pujian begitu saja, tanpa banyak yang mengabadikan karena tidak ada tempat yang Indah untuk menjadi sudut bersejarah.

Hal yang menyedihkan hari ini, menyampaikan kebenaran atas kebijakan yang tidak baik bahkan salah akan dianggap memusuhi dan di salahkan. Namun dengan mereka yang diam, maka pemimpin akan memujinya. Dan bagi mereka yang menyampaikan pendapat salah untuk mendukung kebijakan salah, maka akan diberi penghargaan bahkan kedudukan Mari kita semua  belajar dari semua yang telah terjadi. Didik dan latih diri sejak dini sebagai pemimpin, berproseslah dan jauhkan diri dari pemimpin instan. Bagi yang memiliki ilmu, kemampuan dana dan kesempatan untuk memimpin, masuklah serta tampillah. Sebaiknya bekal telah dipersiapkan, sehingga memimpin itu dapat melayani bukan menghianati.

Editor: Renci

Yuk Belajar Tawakal, Ini Penjelasan Lengkapnya dalam Islam

Jakarta - Manusia ada yang mampu bangkit dari kegagalan, ada juga yang menyerah. Hal tersebut tentunya sangat erat kaitanya dengan istilah tawakal.

Apa sebenarnya arti dari tawakal?

Arti Tawakal

Kata tawakal dalam bahasa Arab توكُل (dibaca Tawakkul) artinya berserah dan bersabar. Sementara di dalam kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI), kata tawakal artinya berserah (kepada kehendak Tuhan), dengan sepenuh hati percaya kepada Tuhan terhadap penderitaan, percobaan dan apa pun yang terjadi di dunia ini.Beberapa pengertian tawakal:
Di dalam bukunya yang "Pengantar Studi Islam", Amin Syukur menjelaskan tawakal artinya memasrahkan diri kepada Allah. Sementara Abu Nashr As-Siraj Ath-Thusi seperti dikutip dari buku "Risalah Qusyairiyyah" karya Imam Qusairi, menyebutkan bahwa syarat tawakal sebagaimana yang di ungkapkan oleh Abu Turab AnNakhsyabi adalah melepaskan anggota tubuh dalam penghambaan, menggantungkan hati dengan keutuhan, dan bersikap merasa cukup. Ketika dia diberikan sesuatu, maka dia akan mengucapkan syukur sebaliknya, jika tidak maka dia bersabar.

Ada juga pendapat yang mendefinisikan tawakal adalah orang yang senantiasa bersandar kepada Allah SWT bukan kepada yang lain. Orang seperti ini percaya bahwa hanya Allah yang menanggung rizki dan urusannya.

Dari sejumlah arti tawakal di atas, sejumlah pakar menjelaskan dan ini pendapat paling kuat menjelaskan bahwa tawakal adalah menyerahkan segala sesuatu yang dilakukan kepada Allah SWT dengan berusaha (ikhtiar), serta berserah sepenuhnya kepada-Nya.

Sebagai seorang hamba yang beriman, sejatinya seorang muslim haruslah bertawakal kepada Allah SWT. Seperti dalam firman Allah dalam QS. Al-Maidah : 23

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: "Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman".

Tawakal merupakan bagian dari tingkatan keimanan kita terhadap Allah SWT. Bahkan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang masyhur, tawakal bisa dijadikan salah satu sifat, orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab.

Tawakal harus disertai dengan ikhtiar

Tidak hanya berserah diri pada Allah, tawakal juga harus diikuti dengan berusaha dan berdoa, barulah untuk penentuan berhasil atau tidaknya sesuatu yang menentukanya adalah Allah. Yakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik dan memberikan pertolongan bagi hamba-hamba yang patuh dan hamba yang memohon kepada-Nya.

Seorang muslim harus berikhtiar yang semaksimal mungkin di segala urusannya. Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh bersikap malas dan lemah, bahkan jikalau kita mampu hendaknya untuk saling membantu.

Kandungan Surat At Tin Pahala yang Tidak Putus Seumur Hidup

MAKNA Surat At Tin yang berada dalam Alquran urutan ke-95 setelah Surat Al Insyirah. Surat At Tin mempunyai 8 ayat dan masuk golongan Makkiyah.

Bagi anak muda kalau rajin beramal di waktu mudanya, maka akan jadi amalan tak terputus hingga waktu tuanya. Inilah faedah dan makna dari surat At Tin.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)
“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8)

Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi

Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi Ulul ‘Azmi yaitu

1. Tempat adanya buah tiin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

2. Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa bin ‘Imran ‘alaihis salam.

3. Negeri Mekah yang penuh rasa aman, tempat diutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)

Sumpah dengan tiga hal di atas menunjukkan kemuliaan Nabi Ulul ‘Azmi –semoga bagi mereka shalawat dan salam-.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, lalu disebutkan al-muqsam ‘alaih yaitu isi sumpah,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin: 4-6)

Tafsiran pertama dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya yang sempurna. Kemudian ia akan masuk dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid dan selainnya. Ia masuk neraka dikarenakan ia tidak mau taat pada Allah Ta’ala dan enggan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang selamat dari neraka adalah orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)

Tafsiran kedua dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam keadaan kuat ketika muda lalu dikembalikan di usia tua dalam keadaan lemah. Tafsiran kedua ini disebutkan dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah. Pendapat ini juga dianut oleh Ibnu Jarir.

Jumat, 10 September 2021

Musywill XXI Ragom Karya Pelajar


Oleh 

Hasbullah 


IKATAN Pelajar Muhammadiyah (IPM), merupakan organisasi pelajar yang terus berusaha membuktikan komitmen diri, sebagai remaja pembelajar yang berkemajuan.


IPM Lampung, secara organisasi, gerakan, dan perkaderan, terus memperlihatkan tren lebih baik dan maju. Musyawarah Wilayah IPM (Muswil) ke-21, pada 10-12 September 2021 di Kalianda, sebagai ajang reorganisasi sekaligus perkaderan. Menjadi tonggak sejarah untuk mengawali kepemimpian periode yang akan datang.


Perjalanan satu periode kemarin, tetunya IPM Lampung belajar banyak untuk menulis sejarah baru dalam berorganisasi. Sejarah inilah, yang menjadi pijakan untuk merumuskan program IPM Lampung ke depan. Menurut M Natsir, sejarah telah menunjukkan, tiap-tiap bangsa yang menempuh ujian yang sakit dan pedih, tapi tidak putus bergiat menentang marabahaya, berpeluh, bahkan beratus tahun lamanya, pada suatu masa akan mencapai satu tingkat berkebudayaan yang sanggup memberikan penerangan.


Kita lihat, Muswil ke-21 IPM Lampung dengan tema "Ragom Karya Pelajar Guwai Bumi Lampung".


Tema yang tak lazim, namun ada pesan keilmuan yang luas ingin dihadirkan oleh IPM Lampung. Selain itu, tema ini juga mencoba mengangkat kekuatan dan kearifan lokal untuk membuka serta mendedah paradigma kader.


Pesan yang bisa kita tangkap dari term ini, bahwa IPM Lampung mampu menjadi rumah besar bagi keberagaman karya pelajar. Menjadi platform gerakan yang tidak hanya berhenti pada wacana dan retorika.


Tentu, ini bukan pekerjaan mudah. Butuh nahkoda yang mampu medesain program sekaligus memadukannya dengan gerakan. Maka, forum Muswil yang menjadi permusyawaratan tertinggi di level provinsi ini, tidak boleh menghadirkan kepentingan sesaat serta kepentingan sekelompok kader saja. Melainkan, forum semua pelajar untuk mendesain hadirnya tauladan teman sebaya, kader IPM Lampung yang merdeka dalam gerakan, unggul dalam perkaderan, serta maju dalam keilmuan.


Dengan modal sosial dan kultural, IPM punya basis lebih 50 unit sekolah menengah atas, dan punyaa 83 SMP, dengan total lebih 45 ribu jumlah pelajar aktif, dimana semua tercatat sebagai anggota IPM Lampung. Semestinya, karya-karya kreatif dan inovasi kalangan pelajar, mudah didapat. Hal itu sebagai indikator nyata adanya ketangguhan gerakan, keilmuan dan juga perkaderan. Wujud pelajar yang tertib ibadah, tertib belajar, dan tertib berorganisasi, yang menjadi bagian dari ideologi ber-IPM, harus terus disuarakan sebagai ejawantah kesuksesan perkaderan.

Kepemimpinan IPM ke depan, tentunya juga harus mampu serta berani berpacu dengan kecanggihan tekhnologi. Setidaknya media sosial telah menjadi basis dakwah dan gerakan selama ini. Literasi menjadi hal yang pokok, mampu membaca serta menulis secara harfiah namun juga mampu membaca dan menulis secara hakikat. Maka, pengurus di level pimpinan wilayah harus mampu menghadirkan keteladanan dalam berfikir dan bergerak.


Politik pelajar, yang ini juga harus dipertimbangkan ke depan. Sebagai organisasi pelajaran dan perkaderan tidak akan terlepas dari dinamikan dan hiruk pikuk dunia politik. Baik itu dari internal maupun dari eksteral. Internal akan hadir dari kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).

Tentunya IPM harus juga hadir dalam pergulatan AMM di Lampung dengan segala dinamika dan kehidupannya. Selain itu, politik pelajar eksternal dengan beberapa issu keterpelajaran, juga akan menguras dan menantang strategi politik nilai IPM sebagai orangisasi berkemajuan dan berkeadaban.

Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang didaulat berfungsi sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah. Tentunya, IPM tidak akan meninggalakan rumah besar persyarikatan dengan tidak terpenjara dan terbeleneggu dalam gerakan. Oleh karenanya, dalam hal ini IPM Lampung juga harus berani untuk memberi kritik, saran dalam bentuk lisan maupun tulisan kepada Muhammadiyah dalam rangka mengingatkan dan menguatkan sekolah Muhammadiyah sebagai basis perkaderan.

Akhirnya, selamat melaksanakan Muswil ke-21 IPM Lampung. Semoga melahirkan kepemimpinan pelajar yang berkemajuan. (*)


Hasbullah

Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Kandidat Doktor IAIN Fatmawati Sukarno Bengkulu